Halaman

Sabtu, 28 Juli 2012

SISTEM EKSKRESI (GINJAL DAN PROSES PEMBENTUKAN URINE)

Ginjal berfungsi sebagai alat ekskresi untuk mengeluarkan zat sisa metabolisme berupa urea, zat sisa empedu dan garam dalam bentuk zat terlarut dalam air

 •BAGIAN-BAGIAN GINJAL [KORTEKS, MEDULLA, PELVIS]
Korteks merupakan lapisan ginjal paling luar, yang memiliki ketebalan hamprir 1/3 dari keseluruhan ginjal.

Korteks dan Medulla  mengandung kurang lebih 1juta nefron. Setiap nefron terdiri dari: badan malpighi dan saluran (tubulus) renalis. Setiap badan malpighi tersusun atas kapsula bowman dan glomerulus yang terdapat di bagian korteks.

Pada bagian Medulla terdapat 3 Tubulus, yaitu:
1.      Tubulus kontortus proksimal
2.      Tubulus kontortus distal
3.      Tubulus kolektivus
Di antara tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distal dihubungkan oleh lengkung henle.


Proses Pembentukan Urine
Proses pembentukan urine terdiri atas 3 tahap, yaitu:
1.      Filtrasi
2.      Reabsorpsi
3.      Augmentasi
Urin dibentuk di nefron, yaitu dengan menyaring darah dan kemudian mengambil kembali ke dalam darah bahan-bahan yang bermanfaat.
Dengan demikian akan tersisa bahan tak berguna, yang nantinya akan keluar dari nefron dalam bentuk suatu larutan yang disebut urin. Perhatikan gambar!


Filtrasi
·         Filtrasi adalah proses penyaringan darah yang mengandung zat-zat sisa metabolisme yang dapat menjadi racun bagi tubuh.
·         Filtrasi terjadi di glomerulus yang ada di badan malpighi.
·         Hasil dari filtrasi di glomerulus, menuju kapsula bowman dan dihasilkan urine primer.
·         Urine primer terdiri dari: air, gula, asam amino, garam/ion anorganik, urea
Reabsorpsi
·         Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal yang nantinya akan menghasilkan urine sekunder.
·         Urine primer yang terkumpul di kapasula Bowman masuk ke dalam tubulus kontortus proksimal dan terjadi reabsorpsi.
·         Pada proses ini terjadi proses penyerapan kembali zat-zat yang masih berguna bagi tubuh oleh dinding tubulus, lalu masuk ke pembuluh darah yang mengelilingi tubulus.
·         Zat-zat yang diserap kembali oleh darah antara lain: glukosa, asam amino, dan ion-ion anorganik (Na+, Ka+, Ca2+, Cl-, HCO3-, HPO43-, SO43-)
·         Hasil dari reabsorpsi urine primer adalah urine sekunder yang mengandung sisa limbah nitrogen dan urea.
·         Urine sekunder masuk ke lengkung henle.Pada tahap ini terjadi osmosis air di lengkung henle desenden sehingga volume urin sekunder berkurang dan menjadi pekat. Ketika urine sekunder mencapai lengkung henle asenden, garam Na+ dipompa keluar dari tubulus, sehingga urin menjadi lebih pekat dan volume urine tetap.
Augmentasi
·         Dari lengkung henle asenden, urine sekunder akan masuk ke tubulus distal untuk masuk tahap augmentasi (pengumpulan zat-zat yang tidak dibutuhkan lagi oelh tubuh).
·         Zat sisa yang dikeluarkan oleh pembuluh kapiler adalah ion hidrogen (H+), ion kalium (K+), NH3 dan kreatinin. Pengeluaran ion H+ ini membantu menjaga pH yang tetap dalam darah.
·         Selama melewati tubulus distal, urin banyak kehilangan air sehingga konsentrasi urin makin pekat.
Selanjutnya urin memasuki pelvis renalis dan menuju ureter, kemudian dialirkan ke vesica urinaria, untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urin diatur oelh otot-otot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300 ml.




1 komentar: